Pernah dengar istilah “anak muda itu pemberani”? Betul banget. Tapi ada satu hal yang sering dilupakan: berani bukan berarti nekat. Remaja hebat itu bukan sekadar yang bisa mengikuti tren, tampil paling gaul di tongkrongan, atau punya followers segudang di media sosial. Remaja hebat adalah mereka yang tahu batasan, paham risiko, dan bisa bikin keputusan yang tepat untuk masa depan dirinya sendiri.
Coba deh lihat realita sekarang. Hidup di era serba digital bikin kita gampang banget terhubung dengan siapa saja. Swipe kanan di aplikasi, ketemu orang baru. Scroll media sosial, langsung ada tren baru. Semua terasa instan. Tapi, di balik kecepatan itu, ada risiko yang sering nggak kita sadari: pergaulan bebas tanpa proteksi, penggunaan gadget yang berlebihan, hingga godaan coba-coba hal berbahaya hanya karena “pengen ikut-ikutan”.
Remaja yang hebat bukan berarti nggak pernah salah. Tapi mereka punya satu senjata: kesadaran diri. Saat ada ajakan yang nggak sehat, mereka bisa mikir dua kali:
“Kalau aku ikut, apa dampaknya buat masa depan?”
“Apakah ini bener-bener aku butuhin, atau cuma biar kelihatan keren?”
Nah, inilah bedanya remaja nekat dengan remaja hebat. Nekat bisa bikin kita rugi, tapi hebat bikin kita kuat.
Bayangin kalau semua remaja paham risiko sejak awal. Nggak cuma risiko soal kesehatan kayak HIV, narkoba, atau seks bebas, tapi juga risiko digital seperti cyberbullying, toxic relationship online, atau oversharing yang bisa jadi bumerang di masa depan. Semua itu bisa dicegah kalau kita punya bekal pengetahuan.
Jadi, kalau kamu masih mikir bahwa belajar tentang risiko itu bikin ribet, coba ubah mindset. Justru dengan ngerti risikonya, kamu bisa bebas ambil keputusan tanpa takut salah langkah. Kamu tetap bisa enjoy masa muda, nongkrong, eksplor hobi, bahkan jatuh cinta—tapi dengan cara yang sehat, aman, dan penuh kontrol diri.
Karena pada akhirnya, remaja hebat bukanlah yang paling populer, tapi yang paling siap menghadapi tantangan hidup. Mereka yang bisa bilang dengan tegas:
“Aku tahu risikonya, dan aku siap memilih yang terbaik untuk diriku.”
Nah, sekarang tinggal kamu sendiri: mau jadi remaja yang sekadar ikutan arus, atau remaja hebat yang paham risiko?