ArtikelDigital

Pornografi sebagai Pemicu Kekerasan Seksual: Realita atau Mitos?

1
×

Pornografi sebagai Pemicu Kekerasan Seksual: Realita atau Mitos?

Share this article

Coba jawab jujur, apa yang terlintas di benak kamu saat mendengar kata pornografi? Mungkin sebagian langsung mengaitkan dengan “hasrat”, “fantasi”, atau bahkan “bebas berekspresi”. Tapi di sisi lain, ada yang langsung mengernyitkan dahi sambil berkata, “Hati-hati, itu bisa memicu kekerasan seksual!”

Nah, pertanyaannya, apakah benar pornografi adalah biang keladi kekerasan seksual? Atau sebenarnya itu cuma mitos yang sering diulang-ulang tanpa bukti kuat?

Mari kita bongkar bersama.

1. Realita: Pengaruhnya Memang Ada

Sejumlah riset menunjukkan bahwa konsumsi pornografi terutama yang mengandung unsur kekerasan bisa memengaruhi cara seseorang memandang hubungan seksual. Konten yang menyajikan pelecehan atau dominasi ekstrem sering membuat penontonnya “menormalisasi” perilaku tersebut di dunia nyata. Akibatnya, batas antara fantasi dan realita bisa jadi kabur.

2. Mitos: Pornografi Selalu Jadi Pemicu

Tapi, tidak semua yang menonton pornografi otomatis akan melakukan kekerasan seksual. Faktor lain seperti pola asuh, lingkungan sosial, trauma masa lalu, dan kontrol diri jauh lebih berperan. Dengan kata lain, pornografi bisa menjadi pemicu pada orang yang memang sudah punya potensi atau niat, tapi bukan penyebab tunggal.

3. Yang Sering Terlupakan

Masalahnya, kita jarang membicarakan literasi seks dan edukasi persetujuan (consent). Ketika remaja atau orang dewasa belajar soal seks dari pornografi tanpa panduan yang benar mereka berisiko menganggap apa yang mereka tonton adalah gambaran realitas. Padahal, sama seperti film aksi, banyak adegan di pornografi adalah hasil skenario yang jauh dari dunia nyata.

4. Jadi, Kesimpulannya?

Pornografi bisa memengaruhi pola pikir dan perilaku, terutama jika kontennya penuh kekerasan dan dikonsumsi tanpa filter atau pemahaman yang sehat. Tapi menyalahkan pornografi 100% tanpa melihat faktor lain ibarat menyalahkan film action karena ada perampokan di dunia nyata terlalu sederhana untuk masalah yang kompleks.

Sekarang giliran kamu:
Menurut kamu, kalau ingin menekan angka kekerasan seksual, lebih penting melarang pornografi atau mengedukasi masyarakat soal seksualitas yang sehat dan consent

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *