Di tengah derasnya arus informasi dan cepatnya jari kita menekan tombol “kirim” di media sosial, kita sering lupa satu hal sederhana: kata-kata bisa menyembuhkan, tapi juga bisa melukai.
Pernah nggak sih, kamu melihat seseorang membagikan ceritanya entah itu tentang kesehatan mental, pilihan hidup, atau bahkan kesalahan masa lalu lalu kolom komentarnya langsung penuh dengan penghakiman? Padahal, di balik layar, dia mungkin sedang berjuang keras untuk bertahan.
Hari ini, realita kita adalah: semua orang punya cerita yang nggak selalu terlihat. Ada yang sedang memulihkan diri dari luka batin, ada yang berusaha keluar dari kebiasaan buruk, ada yang melawan rasa cemas tiap harinya. Dan yang mereka butuhkan bukanlah jari telunjuk yang menuding, tapi tangan yang terulur.
Bayangkan kalau setiap kali kita melihat orang lain terjatuh, respons pertama kita adalah bertanya:
“Kamu butuh bantuan apa?”
bukan
“Kok kamu bisa sampai gitu sih?”
Dukungan itu nggak selalu harus besar atau rumit. Kadang cukup dengan mendengarkan tanpa memotong, mengirim pesan semangat, atau memberi ruang untuk mereka bercerita tanpa takut dihakimi. Hal kecil, tapi dampaknya luar biasa.
Kita hidup di era di mana opini mudah tersebar, tapi empati sering ketinggalan. Yuk, kita balik trennya. Jadilah orang yang kalau hadir, orang lain merasa lebih kuat, bukan lebih takut. Jadilah teman yang menguatkan, bukan yang membuat orang menarik diri.
Ingat, hidup ini sudah cukup berat untuk semua orang. Jadi, kalau kita bisa memilih, kenapa nggak jadi bagian dari solusi?
Mulai hari ini, mari kita biasakan untuk saling dukung, bukan saling hakimi. Karena saat kita menguatkan satu sama lain, kita bukan hanya membuat dunia jadi lebih ramah tapi juga membuat hati kita sendiri lebih lapang.