ArtikelDigital

Cyberbullying terhadap ODHIV di Media Sosial: Mengatasi Stigma di Era Teknologi

4
×

Cyberbullying terhadap ODHIV di Media Sosial: Mengatasi Stigma di Era Teknologi

Share this article

Di era teknologi serba cepat seperti sekarang, media sosial menjadi panggung besar bagi jutaan suara. Ada yang berbagi inspirasi, ada yang berbagi informasi, tapi sayangnya… ada juga yang menggunakan ruang ini untuk menyebarkan kebencian. Salah satu korban yang paling sering terkena imbasnya adalah ODHIV Orang dengan HIV.

Bayangkan: seseorang yang sedang berjuang menjaga kesehatannya, rutin minum obat, mencoba hidup normal, tiba-tiba mendapat komentar pedas seperti “Penyakitmu aib!” atau “Itu karena gaya hidupmu!” di kolom komentar. Bukan hanya menyakitkan, tetapi juga bisa meruntuhkan kepercayaan diri, membuat mereka takut bersuara, bahkan enggan mencari pertolongan. Inilah bentuk nyata cyberbullying yang masih terjadi di Indonesia hari ini.

Masalahnya, stigma terhadap HIV sudah lama bercokol. Banyak orang masih mengira HIV identik dengan perilaku menyimpang, padahal faktanya tidak sesederhana itu. Penularan bisa terjadi melalui banyak cara yang jauh dari stereotype yang beredar. Tapi di media sosial, satu informasi keliru bisa menyebar lebih cepat daripada fakta yang benar. Algoritma platform pun sering kali lebih “memanjakan” konten sensasional dibanding konten edukasi.

Kalau kita mau jujur, fenomena ini bukan sekadar soal hate speech. Cyberbullying terhadap ODHIV juga mencakup doxxing (membocorkan identitas seseorang), menyebarkan foto tanpa izin, atau membuat meme yang merendahkan. Ironisnya, di era ketika kampanye mental health awareness marak, empati terhadap ODHIV di media sosial masih belum sekuat yang seharusnya.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan?
Pertama, mulai dari diri sendiri. Jangan asal share info sebelum cek kebenarannya. Ingat, setiap kali kita mengomentari atau membagikan konten, kita ikut membentuk opini publik. Kedua, belajar memahami fakta tentang HIV. Teknologi memudahkan kita mencari sumber yang akurat tinggal mau atau tidak. Ketiga, jadi upstander, bukan bystander. Kalau melihat cyberbullying, jangan diam. Laporkan akun, tinggalkan komentar positif, atau dukung korban lewat pesan pribadi.

Kita perlu ingat, ODHIV bukan sekadar label medis. Mereka adalah manusia biasa: punya mimpi, punya pekerjaan, punya keluarga, punya hak untuk dihargai. Media sosial seharusnya menjadi ruang yang aman untuk semua orang, termasuk mereka yang hidup dengan HIV.

Di tengah derasnya arus informasi, kita punya pilihan: mau jadi bagian dari masalah, atau bagian dari solusi. Yuk, mulai dari hal kecil karena setiap kata, setiap klik, setiap like bisa menentukan apakah kita sedang membangun tembok stigma… atau membuka pintu empati.

Dan kalau kamu membaca ini sampai akhir, artinya kamu peduli. Mungkin langkahmu sederhana, tapi siapa tahu, dari satu komentar baik yang kamu tulis hari ini, ada hati yang terselamatkan dari luka yang lebih dalam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *