Remaja masa kini hidup di era yang serba cepat, penuh informasi, dan… ya, penuh tantangan. Media sosial, tontonan, bahkan obrolan di grup chat bisa menjadi pintu masuk ke perilaku seksual yang berisiko. Masalahnya, rasa penasaran yang tinggi, ditambah tekanan dari lingkungan, kadang bikin mereka mengambil keputusan tanpa pikir panjang. Nah, di sinilah CBT (Cognitive Behavioral Therapy) atau terapi perilaku kognitif, hadir sebagai salah satu cara untuk membantu mereka mengendalikan diri dan membuat pilihan yang lebih sehat.
Kalau kamu baru dengar tentang CBT, bayangkan ini seperti “pelatih mental” yang membantu seseorang mengenali pola pikir dan kebiasaan yang bikin mereka terjebak pada perilaku yang nggak sehat lalu mengubahnya pelan-pelan. CBT bukan sekadar ngobrol santai, tapi proses belajar cara berpikir yang lebih realistis, mengelola emosi, dan menemukan cara bertindak yang aman.
Mari kita bicara realita. Remaja sekarang sering terpapar konten seksual sejak usia sangat muda, bahkan kadang sebelum mereka benar-benar paham soal konsekuensinya. Dorongan untuk mencoba bisa datang dari mana saja: teman sebaya, rasa ingin tahu, atau bahkan hubungan yang nggak sehat. Masalahnya, perilaku seksual berisiko nggak cuma soal risiko penyakit menular seksual atau kehamilan yang nggak direncanakan tapi juga soal harga diri, kesehatan mental, dan masa depan mereka.
CBT bekerja dengan cara memecah “lingkaran setan” ini. Misalnya, seorang remaja yang merasa kesepian bisa terdorong untuk mencari validasi lewat perilaku seksual yang berisiko. Dalam CBT, dia akan belajar mengenali pemicu rasa kesepian itu, memahami pikirannya (“Kalau aku nggak melakukan ini, aku nggak akan disukai”), lalu menggantinya dengan pola pikir baru yang lebih sehat (“Aku bisa dihargai karena diriku sendiri, bukan karena perilaku ini”).
Yang membuat CBT efektif adalah sifatnya yang praktis dan terukur. Terapi ini biasanya melibatkan latihan-latihan nyata: membuat jurnal pikiran, mencoba teknik pernapasan untuk mengendalikan dorongan, sampai role-play untuk menghadapi situasi yang berisiko. Dengan begitu, remaja nggak cuma paham “apa yang salah”, tapi juga punya skill nyata untuk mengubahnya.
Bahkan, di tengah perkembangan teknologi sekarang, CBT bisa dilakukan secara fleksibel. Ada sesi tatap muka di klinik atau sekolah, ada juga CBT berbasis aplikasi atau video call yang bikin remaja lebih nyaman bercerita. Pendekatan ini penting, karena nggak semua remaja mau langsung datang ke terapis dengan gaya formal.
Kuncinya adalah membuat mereka merasa didengar tanpa dihakimi. CBT memberi ruang aman untuk itu. Remaja diajak melihat bahwa mereka masih bisa mengendalikan masa depan mereka, meski sudah pernah melakukan kesalahan. Dan kabar baiknya, CBT bukan hanya untuk menghentikan perilaku berisiko, tapi juga untuk membangun rasa percaya diri, kemampuan mengambil keputusan, dan hubungan yang sehat.
Jadi, kalau kita mau mencegah perilaku seksual berisiko pada remaja, kita nggak bisa cuma mengandalkan larangan atau ceramah panjang. Kita butuh pendekatan yang menyentuh pikiran dan hati mereka dan CBT adalah salah satu cara yang sudah terbukti efektif.
Mungkin sudah saatnya kita, sebagai orang tua, pendidik, atau bahkan teman, mulai membuka ruang obrolan yang lebih sehat. Karena mengubah masa depan remaja bukan soal menghakimi masa lalu mereka, tapi soal membantu mereka belajar memilih jalan yang lebih aman dan bijak.