Hubungan yang sehat dibangun di atas pondasi saling percaya, keterbukaan, dan dukungan. Namun, bagaimana jika di tengah perjalanan cinta, pasangan dihadapkan pada kenyataan bahwa salah satu di antara mereka hidup dengan HIV, sementara yang lain tidak? Situasi ini yang sering disebut serodiscordant couple bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari perjalanan baru yang memerlukan pemahaman, edukasi, dan strategi bersama untuk tetap harmonis dan aman.
Di era sekarang, HIV bukan lagi vonis mati seperti puluhan tahun lalu. Dengan pengobatan ARV (antiretroviral) yang tepat, orang dengan HIV dapat hidup sehat, produktif, dan bahkan membangun keluarga. Namun, tantangan emosional, stigma sosial, dan kekhawatiran akan penularan masih menjadi beban tersendiri. Di sinilah konseling dan terapi pasangan berperan penting bukan hanya untuk memberi informasi, tapi juga menjadi ruang aman bagi pasangan untuk saling memahami tanpa rasa takut atau menghakimi.
Konseling pasangan membantu kedua belah pihak untuk:
- Memahami cara kerja HIV, bagaimana penularannya terjadi, dan bagaimana mencegahnya.
- Mengetahui bahwa dengan pengobatan yang teratur hingga viral load tidak terdeteksi, risiko penularan dapat ditekan hingga nyaris nol (Undetectable = Untransmittable atau U=U).
- Membangun komunikasi yang terbuka tentang perasaan, kekhawatiran, dan kebutuhan masing-masing.
- Menyusun rencana kehidupan bersama mulai dari intimasi, rencana memiliki anak, hingga gaya hidup sehat.
Tidak jarang, pasangan merasa terjebak antara rasa cinta dan rasa takut. Di titik inilah terapis atau konselor akan memandu dengan pendekatan yang empatik. Misalnya, membantu pasangan mengelola kecemasan berlebihan, mengurai miskonsepsi yang menakutkan, dan memberikan strategi nyata untuk menjaga hubungan tetap mesra tanpa mengabaikan kesehatan.
Sesi konseling juga sering melibatkan pembahasan tentang pilihan pencegahan tambahan, seperti penggunaan kondom, PrEP (profilaksis pra-paparan) bagi pasangan yang HIV-negatif, atau tes HIV berkala untuk memastikan keamanan. Semua ini dibahas dengan bahasa yang membumi, tanpa intimidasi, agar pasangan merasa nyaman untuk bertanya bahkan tentang hal yang paling pribadi sekalipun.
Lebih dari sekadar informasi, terapi pasangan memberi kekuatan emosional. Pasangan yang saling mendukung akan lebih mampu menghadapi tekanan dari luar, seperti komentar negatif atau stigma dari lingkungan. Bahkan, banyak pasangan serodiscordant yang kemudian menjadi inspirasi bagi orang lain membuktikan bahwa perbedaan status HIV bukanlah penghalang untuk mencintai dan dicintai.
Kalau kamu atau seseorang yang kamu kenal berada dalam situasi ini, ingatlah: tidak ada yang salah dengan mencari bantuan profesional. Konseling dan terapi pasangan bukan tanda kelemahan, tapi justru bukti bahwa kalian serius membangun masa depan bersama. HIV hanyalah satu bab dalam cerita cinta kalian, bukan keseluruhan kisahnya. Dengan pengetahuan, dukungan, dan cinta yang kuat, hubungan kalian tetap bisa tumbuh subur bahkan lebih kokoh dari sebelumnya.