ArtikelKesehatan

Burnout pada Tenaga Kesehatan dan Konselor HIV: Pencegahan dan Self-Care

1
×

Burnout pada Tenaga Kesehatan dan Konselor HIV: Pencegahan dan Self-Care

Share this article

Pernah merasa lelah sampai rasanya semua energi terkuras habis, bahkan sebelum pekerjaan dimulai?
Kalau iya, kemungkinan besar kamu sedang berada di ambang burnout. Dan ini bukan sekadar “capek biasa” yang bisa hilang setelah tidur semalam. Burnout adalah kondisi kelelahan fisik, emosional, dan mental yang terjadi akibat tekanan pekerjaan yang terus-menerus.

Bagi tenaga kesehatan dan konselor HIV, risiko ini lebih tinggi dari rata-rata. Kenapa? Karena pekerjaan mereka bukan cuma soal keterampilan medis atau teknis tetapi juga soal hati, empati, dan mendengarkan kisah hidup yang sering kali penuh luka. Bayangkan: setiap hari berhadapan dengan pasien atau klien yang menghadapi stigma, penyakit kronis, bahkan penolakan dari lingkungan. Berat, bukan?

Kenapa Burnout Bisa Terjadi?

Realitanya, di lapangan saat ini beban kerja tenaga kesehatan dan konselor HIV semakin kompleks. Setelah pandemi COVID-19, sistem kesehatan di banyak daerah masih berusaha “pulih”. Layanan HIV harus tetap berjalan, konseling harus tetap ada, tetapi sumber daya manusia kadang tidak sebanding dengan jumlah pasien yang harus dilayani.

Di sisi lain, konselor HIV bukan hanya memberi informasi soal pengobatan atau pencegahan. Mereka juga menjadi tempat curhat, tempat menangis, bahkan kadang satu-satunya orang yang bisa dipercaya oleh pasien. Dan ini menguras energi emosional luar biasa. Apalagi kalau di rumah, mereka juga punya masalah pribadi. Jadilah dua dunia yang sama-sama butuh tenaga dan lama-lama tubuh serta pikiran bisa “ngambek”.

Tanda-Tanda Burnout yang Sering Diabaikan

Masalahnya, burnout sering datang diam-diam.
Awalnya hanya merasa lelah, lalu mulai kehilangan motivasi. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain:

  • Merasa tidak punya energi bahkan di awal hari.
  • Susah fokus dan mudah lupa.
  • Menjadi mudah marah atau sensitif.
  • Merasa “mati rasa” terhadap masalah pasien.
  • Mulai menarik diri dari rekan kerja atau lingkungan sosial.

Kalau sudah sampai tahap ini, alarm tubuh sedang berbunyi kencang. Tapi sering kali kita mengabaikannya, karena merasa “ini sudah risiko pekerjaan”. Padahal tidak harus begitu.

Pencegahan: Mulai dari Diri Sendiri

Pencegahan burnout bukan berarti meninggalkan pekerjaan atau mengurangi empati. Justru sebaliknya, ini soal menjaga “baterai” diri agar tetap terisi sehingga kita bisa terus melayani orang lain.

Beberapa langkah yang bisa dilakukan:

  1. Atur Batasan (Set Boundaries)
    Berempati bukan berarti harus siap 24 jam. Tetapkan jam istirahat dan patuhi. Ingat, tidak semua masalah pasien harus selesai hari itu juga.
  2. Istirahat yang Berkualitas
    Bukan cuma soal tidur malam. Sediakan waktu me time untuk melakukan hal yang kamu suka, walaupun cuma 15 menit sehari.
  3. Dukungan dari Rekan Kerja
    Jangan memendam semua cerita sendirian. Saling berbagi pengalaman dan keluh kesah bisa membuat beban terasa lebih ringan.
  4. Pelatihan & Supervisi Rutin
    Ikut pelatihan atau refresh training bukan cuma menambah ilmu, tapi juga memberi ruang untuk refleksi dan mengingat kembali tujuan awal bekerja.
  5. Jaga Kesehatan Fisik
    Makan teratur, olahraga ringan, dan hidrasi cukup—tiga hal simpel yang sering kita lupakan saat sibuk.

Self-Care Bukan Egois, Tapi Wajib

Kadang ada rasa bersalah kalau kita meluangkan waktu untuk diri sendiri. Apalagi di pekerjaan yang berkaitan dengan kesehatan orang lain. Tapi ingat: kita tidak bisa menuang dari gelas yang kosong. Tenaga kesehatan dan konselor HIV yang sehat secara fisik dan mentalmakan jauh lebih efektif membantu pasien.

Self-care bukan berarti liburan mewah atau spa mahal. Kadang cukup dengan mematikan ponsel selama satu jam, berjalan santai di taman, atau sekadar menonton film favorit tanpa distraksi.

Penutup: Kita Semua Manusia

Menjadi tenaga kesehatan atau konselor HIV adalah pekerjaan mulia tapi juga berat. Kita bukan robot. Ada batas energi, ada batas emosi. Mengakui bahwa kita butuh istirahat bukan tanda kelemahan, melainkan tanda bahwa kita peduli pada kualitas pelayanan dan keberlangsungan diri.

Jadi, sebelum burnout datang menghampiri, yuk mulai rawat diri. Karena menjaga kesehatan diri adalah langkah pertama untuk bisa menjaga kesehatan orang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *