Bayangkan, kamu lagi berusaha bangkit, memperbaiki hidup, atau sekadar ingin menjalani hari dengan tenang… tapi komentar miring, tatapan sinis, atau perlakuan berbeda justru datang dari orang sekitar. Rasanya? Campur aduk marah, sedih, kecewa, bahkan mulai meragukan diri sendiri.
Itulah yang disebut stigma dan diskriminasi. Dan faktanya, di zaman yang katanya “serba modern” ini, keduanya masih ada di mana-mana. Bukan cuma di berita atau media sosial, tapi juga di lingkungan terdekat: kampus, kantor, bahkan keluarga.
Masalahnya, stigma dan diskriminasi itu seperti racun yang pelan-pelan menggerogoti rasa percaya diri. Mereka bisa bikin seseorang merasa terasing, minder, atau bahkan menutup diri sepenuhnya. Parahnya lagi, efeknya nggak cuma di pikiran, tapi juga bisa mengganggu kesehatan fisik.
Lalu, gimana cara melawannya?
Salah satu langkah yang terbukti ampuh adalah konseling psikologi.
Banyak orang masih berpikir bahwa “ke psikolog” itu artinya lemah, gila, atau nggak bisa mengatasi masalah sendiri. Padahal, konseling itu ibarat punya teman netral yang nggak menghakimi, yang siap mendengarkan tanpa drama, dan membantu kita melihat situasi dari sudut pandang yang lebih jernih.
Konseling bukan cuma soal curhat. Ini tentang membangun mental armor perisai mental yang bikin kita lebih kuat menghadapi komentar negatif. Psikolog akan membantu kita:
- Mengidentifikasi pikiran negatif yang bikin kita stuck.
- Mengganti pola pikir yang toxic dengan yang lebih sehat.
- Menemukan cara respon yang elegan dan efektif saat menghadapi diskriminasi.
Dan enaknya, sekarang akses ke konseling jauh lebih mudah. Nggak harus datang ke klinik kalau kamu nggak nyaman ada banyak layanan konseling online yang bisa diakses lewat ponsel. Jadi, nggak ada lagi alasan “ribet” atau “malu” untuk memulai.
Ingat, stigma dan diskriminasi itu masalah sosial, tapi efeknya pribadi. Kalau kita mau kuat berdiri di tengah badai komentar dan perlakuan negatif, kita butuh senjata yang tepat dan salah satunya adalah keberanian untuk mencari bantuan.
Jadi, kalau kamu atau orang terdekat sedang merasa terjebak di pusaran stigma, jangan diam. Coba buka pintu itu, mulai bicarakan dengan ahlinya. Karena, percayalah… merawat pikiran itu sama pentingnya dengan merawat tubuh. Dan ketika mentalmu kuat, tidak ada stigma yang bisa menjatuhkanmu.